Perseteruan antara Tauhid dan Syirik
Perseteruan antara Tauhid dan Syirik adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Minhaj Al-Firqah an-Najiyah wa ath-Tha’ifah Al-Manshurah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Sabtu, 12 Sya’ban 1447 H / 31 Januari 2026 M.
Kajian Tentang Perseteruan antara Tauhid dan Syirik
Sejarah Perseteruan Sejak Zaman Nabi Nuh ‘Alaihis Salam
Peperangan antara tauhid melawan syirik telah terjadi sejak zaman rasul yang pertama, yaitu Nabi Nuh ‘Alaihis Salam. Perseteruan bermula ketika beliau mengajak kaumnya untuk beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan peribadatan kepada berhala. Sebagaimana para nabi terdahulu, seruan utama mereka adalah:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut’.” (QS. An-Nahl[16]: 36)
Nabi Nuh ‘Alaihis Salam menyerukan kepada kaumnya untuk bertauhid dan bertakwa, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an:
أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ
“Sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku.” (QS. Nuh[71]: 3)
Nabi Nuh menetap dan bersabar dalam mendakwahkan tauhid selama 950 tahun. Namun, tokoh-tokoh pembesar kaumnya justru menentang dakwah tersebut dan menghasut masyarakat awam untuk tetap dalam kesesatan.
Di dalam Al-Qur’an disebutkan bagaimana reaksi para penentang dakwah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam. Mereka berkata kepada masyarakat agar tidak meninggalkan sembahan-sembahan selain Allah:
وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
“Dan mereka berkata, ‘Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa‘, Yaghuts, Ya‘uq, dan Nasr’.” (QS. Nuh[71]: 23)
Sejak zaman Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, selalu ada tokoh-tokoh yang mengajak manusia kepada kesesatan. Mereka melakukan penentangan secara terang-terangan karena tidak ingin kehilangan pengikut atau kedudukan. Mereka justru mendorong orang awam untuk tetap berada dalam kesyirikan dan penyimpangan. Padahal, zaman Nabi Nuh ‘Alaihis Salam saat itu secara waktu masih terhitung dekat dengan fitrah manusia dan masa Nabi Adam ‘Alaihis Salam.
Kesyirikan tidak tersebar begitu saja, melainkan muncul pertama kali karena kejahilan dan tipu daya setan. Penentangan terhadap tauhid sering kali dipelopori oleh tokoh-tokoh yang mengajak kepada kesesatan demi mempertahankan kekuasaan. Mereka secara terang-terangan menentang dakwah para nabi dan rasul ‘Alaihis Shalatu was Salam, padahal para utusan Allah tersebut adalah sebaik-baik penyeru ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, yang termasuk dalam jajaran Ulul Azmi, berdakwah selama 950 tahun, namun pengikut beliau tetap sedikit. Hal ini disebabkan kuatnya pengaruh para tokoh kesesatan yang senantiasa mempengaruhi umat. Fenomena ini menunjukkan bahwa peperangan antara tauhid dan syirik telah berlangsung sejak dahulu dan akan terus berlanjut hingga hari kiamat. Hanya orang-orang yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan tetap teguh di atas kebenaran.
Tafsir Ibnu Abbas mengenai Patung Kaum Nuh
Imam Bukhari meriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma seorang ahli tafsir yang didoakan khusus oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar dianugerahi pemahaman agama yang mendalam mengenai asal-usul berhala pada kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma menjelaskan:
“Nama-nama itu (Wadd, Suwa’, Yaguts, Ya’uq, dan Nasr) adalah nama-nama orang saleh dari kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam. Ketika mereka wafat, setan membisikkan kepada kaumnya agar mendirikan patung-patung peringatan di tempat-tempat majelis mereka dan menamainya dengan nama-nama mereka. Mereka pun melakukannya, namun saat itu patung-patung tersebut belum disembah. Baru setelah generasi itu wafat dan ilmu telah dilupakan, barulah patung-patung itu disembah.” (HR. Bukhari)
Strategi Setan Menjerumuskan Manusia
Setan tidak terburu-buru dalam menyesatkan manusia. Awalnya, setan membisikkan bahwa pembuatan patung tersebut bertujuan untuk mengenang jasa orang-orang saleh agar umat semakin semangat beribadah. Setan menggunakan kata-kata indah yang menipu, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا
“…sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah-indah sebagai tipuan.” (QS. Al-An’am[6]: 112)
Pada generasi pertama, patung-patung tersebut belum dijadikan sesembahan karena mereka masih memiliki ilmu dan paham bahwa syirik adalah dosa besar. Namun, setan bersabar menunggu hingga generasi yang memiliki ilmu tersebut wafat. Ketika ilmu agama telah dilupakan dan murid-murid langsung dari orang saleh tersebut tiada, barulah setan berhasil menguatkan keyakinan bahwa patung-patung itu harus disembah.
Hal ini menjadi pelajaran penting bahwa ilmu adalah penjaga dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang membentengi hamba-Nya agar tetap tegak di atas tauhid dan menjauhi kesyirikan. Tanpa ilmu, pengagungan yang berlebihan terhadap orang saleh dapat menjadi pintu masuk bagi setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam syirik.
Fitnah Syubhat Sebagai Pintu Kesyirikan
Perbuatan syirik yang pertama kali terjadi di muka bumi bermula dari godaan setan berupa syubhat, yaitu pengagungan berlebihan terhadap orang-orang saleh. Setan menghiasi tindakan tersebut dengan dalih menghargai jasa para guru kebaikan. Inilah alasan mengapa fitnah syubhat lebih disukai oleh iblis daripada fitnah syahwat. Syubhat mengandung kerancuan dan kesamaran yang membuat manusia sulit membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
Setan membisikkan bahwa pengagungan tersebut adalah suatu kebaikan. Meskipun generasi awal mungkin belum menyadarinya, setan terus menghiasi perbuatan itu hingga datang generasi berikutnya yang jahil terhadap ilmu agama. Generasi yang tidak paham tauhid ini kemudian terjerumus ke dalam kesyirikan karena menyangka mereka sedang mengikuti tradisi mulia nenek moyang.
Jika dakwah tauhid tidak ditegakkan dan syubhat mengenai pengagungan orang saleh dibiarkan seperti menjadikan perantara dalam ibadah atau meminta syafaat kepada mayit maka kesyirikan akan merajalela. Iblis sangat menyukai cara ini karena seseorang yang terjerumus dalam syubhat akan terus melakukan dosa tanpa merasa perlu bertobat, sebab mereka merasa telah berbuat sebaik-baiknya.
Larangan Patung dan Gambar sebagai Sarana Syirik
Setan memerintahkan kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam untuk mendirikan patung-patung berbentuk manusia di majelis mereka. Dalam Islam, hal semacam ini dilarang keras karena merupakan dzari’ah atau perantara menuju kesyirikan. Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu pernah menyampaikan perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
وَلَا تَدَعْ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ
“dan Janganlah engkau membiarkan ada gambar (atau patung) kecuali engkau telah menghapusnya (menghancurkannya).” (HR. Muslim)
Ini merupakan perantara kesyirikan maka didalam Islam dilarang hal-hal seperti ini dengan pengharaman yang sangat keras, terbukti seperti kejadian pada kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam.
Keseragaman Dakwah Para Nabi
Setelah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, Allah Subhanahu wa Ta’ala terus mengutus para rasul untuk mengajak kaumnya kembali kepada tauhid. Setiap nabi membawa pesan yang sama, yaitu mengesakan Allah dan meninggalkan segala sesembahan yang tidak pantas disembah. Al-Qur’an mengabadikan seruan-seruan tersebut sebagai berikut:
1. Dakwah Nabi Hud ‘Alaihis Salam
وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Ad saudara mereka, Hud. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada sesembahan yang benar bagi kalian selain Allah.. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?`” (QS. Al-A’raf[7]: 65)
2. Dakwah Nabi Saleh ‘Alaihis Salam
وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ
“Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada sesembahan yang benar bagi kalian selain Allah.’.” (QS. Hud[11]: 61)
Setiap nabi dan rasul ‘Alaihis Shalatu was Salam membawa seruan yang sama, yaitu mengajak umat untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dan tidak menyekutukan-Nya.
3. Nabi Syuaib ‘Alaihis Salam
وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ
“Dan kepada penduduk Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada sesembahan yang benar bagi kalian selain Allah.’.” (QS. Hud[11]: 84)
4. Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ
“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali (kamu menyembah) Dzat yang menciptakanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku’.” (QS. Az-Zukhruf[43]: 26-27)
Dakwah tauhid merupakan pesan yang disampaikan secara berulang oleh para nabi dan rasul. Meskipun pembahasan mengenai tauhid sering kali diulang, kenyataannya perbuatan syirik masih terus terjadi di tengah umat, bahkan dilakukan secara terang-terangan oleh sebagian orang yang menisbatkan diri kepada Islam. Hal ini menunjukkan pentingnya kajian tauhid untuk terus disampaikan kepada umat tanpa perlu merasa khawatir atau ragu.
Kekuatan Dalil Al-Qur’an dalam Berdakwah
Mayoritas isi Al-Qur’an adalah penjelasan mengenai dakwah yang mulia ini. Seseorang yang memiliki kebaikan di dalam hatinya akan lebih mudah menerima dakwah tauhid apabila disampaikan dengan nukilan ayat Al-Qur’an sebagai sebaik-baik petunjuk. Kegagalan dalam berdakwah sering kali disebabkan oleh penyampaian yang hanya mengandalkan kata-kata indah tanpa dukungan dalil yang kuat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ
“Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) yang dibacakan kepada mereka?” (QS. Al-Ankabut[29]: 51)
Al-Qur’an adalah sebaik-baik penjelasan untuk meyakinkan manusia. Dalil-dalil tersebut akan membuka hati orang-orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Konsekuensi dan Penentangan Dakwah Tauhid
Kaum musyrikin menanggapi seruan para nabi dengan pengingkaran dan perlawanan menggunakan segala kekuatan yang dimiliki. Jika para nabi saja menghadapi tantangan yang demikian berat, maka orang-orang yang mengikuti jejak mereka tentu akan menghadapi hal yang serupa. Waraqah bin Naufal pernah menyatakan hal ini kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ
“Tidak ada seorang pun yang datang membawa petunjuk seperti yang engkau bawa, kecuali dia akan dimusuhi.” (HR. Bukhari)
Tauhid sebenarnya adalah perkara sederhana dan sesuai dengan fitrah manusia; bahwa tidak ada pencipta, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, sudah sewajarnya manusia hanya meminta kepada-Nya. Namun, tipu daya setan telah membutakan akal pikiran manusia sehingga orang yang dianggap cerdas sekalipun dapat dengan mudah bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kesesatan Syubhat Dan Pengagungan Makhluk
Penyimpangan aqidah sering kali bermula dari syubhat yang halus, sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam. Mereka terjerumus dalam kesyirikan dengan dalih memuliakan orang saleh dan menghormati para wali Allah. Sesungguhnya, orang yang melakukan perbuatan syirik adalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri dan merendahkan akalnya. Tidak ada kecerdasan bagi mereka yang menjadikan makhluk yang lemah sebagai sesembahan dan tempat bergantung. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفْسَهُ
“Dan tidak ada yang membenci agama Ibrahim, kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri.” (QS. Al-Baqarah[2]: 130)
Agama Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam adalah agama tauhid yang hanif, yang senantiasa menghadapkan diri hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berpaling dari segala bentuk sesembahan selain-Nya. Menghambakan diri kepada makhluk yang sama lemahnya dengan manusia adalah puncak kebodohan yang nyata.
Perubahan Sikap Kaum Quraisy Terhadap Rasulullah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah nabi terakhir yang paling mulia. Sebelum diutus menjadi rasul, beliau sangat dikenal di kalangan orang Arab dengan gelar As-Shiddiqul Amin (yang jujur lagi terpercaya). Namun, ketika beliau mulai mendakwahkan tauhid dan mengajak kaumnya meninggalkan sesembahan nenek moyang, mereka seketika melupakan kesaksian mereka terhadap kejujuran beliau.
Hanya karena seruan dakwah yang tidak sesuai dengan hawa nafsu, pujian mereka berubah menjadi cercaan. Mereka menggelari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai penyihir dan pendusta (sahirun kadzdzab). Penolakan ini diabadikan di dalam Al-Qur’an:
وَعَجِبُوا أَن جَاءَهُم مُّنذِرٌ مِّنْهُمْ ۖ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ اَجَعَلَ الْاٰلِهَةَ اِلٰهًا وَّاحِدًاۖ اِنَّ هٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka sendiri; dan orang-orang kafir berkata, ‘Orang ini adalah pesihir yang banyak berdusta’ Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu menjadi Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.” (QS. Shad[38]: 4-5)
Keheranan Kaum Musyrikin Terhadap Tauhid
Orang-orang musyrik merasa heran ketika diajak untuk mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka merasa berat meninggalkan tradisi banyak sesembahan untuk beralih kepada satu sembahan saja.
Penolakan ini sangat kontradiktif dengan akal sehat. Hal ini senada dengan penjelasan Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam saat bertanya kepada teman sepenjaranya mengenai hakikat ketuhanan:
أَأَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
“Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa, Maha Perkasa?” (QS. Yusuf[12]: 39)
Jawaban atas pernyataan tersebut sudah sangat jelas bahwa Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa jauh lebih baik daripada sembahan-sembahan yang tidak mampu memberikan manfaat maupun mencegah mudarat.
Kesamaan Pola Penolakan Terhadap Dakwah Tauhid
Penolakan dan pengingkaran kaum kafir Quraisy terhadap dakwah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki pola yang sama dengan kaum-kaum terdahulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
كَذَٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ أَتَوَاصَوْا بِهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ
“Demikianlah, tidak ada seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, ‘Dia itu pesihir atau orang gila.’ Apakah mereka saling mewasiatkan jawaban itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Az-Zariyat[51]: 52-53)
Kesamaan jawaban dan sikap melampaui batas tersebut menunjukkan bahwa orang-orang musyrik selalu menentang seruan yang sebenarnya bertujuan menyelamatkan mereka dari kebinasaan dan azab kekal di akhirat. Para rasul ‘Alaihis Shalatu was Salam tetap memiliki komitmen teguh untuk mengajak manusia kepada tauhid, meskipun kaum mereka terus mendustakan dan mengada-ngadakan kebohongan dengan memberikan gelar-gelar buruk.
Kisah-kisah penentangan di dalam Al-Qur’an berfungsi sebagai pengingat bahwa siapa pun yang berpegang teguh pada dakwah para nabi akan menghadapi tantangan serupa. Seseorang yang hanya mencari massa atau pujian manusia cenderung menghindari pembahasan tauhid dan pengingkaran terhadap syirik. Namun, dakwah yang benar harus mengikuti jalan yang telah digariskan Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku, aku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah (ilmu yang mendalam), aku dan orang-orang yang mengikutiku. Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik’.” (QS. Yusuf[12]: 108)
Dakwah ini dilakukan di atas ilmu yang mendalam serta keyakinan untuk menyucikan Allah ‘Azza wa Jalla dari segala bentuk kesyirikan. Permusuhan antara tauhid dan syirik akan terus berlangsung, dan pengikut para nabi tidak boleh berkecil hati jika mendapatkan penentangan, karena sebaik-baik dai saja mengalaminya.
Perbedaan Respons Antara Dakwah Akhlak Dan Dakwah Tauhid
Terdapat perbedaan mendasar dalam respons masyarakat terhadap materi dakwah. Mengajak kaum muslimin kepada akhlak mulia, kejujuran, sifat amanah, dan menepati janji adalah sebuah kewajiban yang sangat dicintai. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Beliau juga menegaskan pentingnya akhlak dalam sabda lainnya:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Muslim)
Ketika seorang muslim mendakwahkan kejujuran dan amanah, ia hampir tidak akan mendapati penentangan yang keras atau upaya permusuhan. Namun, keadaan berubah ketika ia mulai menyuarakan tauhid yang murni, yaitu mengajak manusia untuk berdoa dan meminta hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata serta meninggalkan perantara-perantara selain-Nya.
Dakwah tauhid yang menegaskan bahwa segala bentuk ketergantungan kepada selain Allah adalah kesyirikan seringkali memicu penentangan. Orang-orang yang merasa terganggu keyakinan salahnya akan mulai menyerang dai tersebut dengan berbagai tuduhan dusta. Inilah risiko yang melekat pada dakwah yang paling mendasar dalam agama Islam.
Menegakkan dakwah tauhid yang murni, yaitu mengajak manusia untuk berdoa hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak bergantung kepada selain-Nya, sering kali mendatangkan penentangan. Ketika seorang dai menyampaikan wasiat
Sebagian orang justru memberikan reaksi negatif dengan menuduh bahwa ajaran tersebut adalah ajaran kelompok tertentu. Setiap orang yang mendakwahkan tauhid akan mendapatkan perlakuan dan tuduhan dusta, sebagaimana gelar buruk yang pernah diberikan kepada para nabi dan rasul ‘Alaihis Shalatu Wassalam.
Seseorang yang ingin selamat dari celaan manusia mungkin akan memilih untuk meninggalkan dakwah tauhid dan tidak mengingkari perbuatan syirik. Cara seperti itu cenderung disukai dan memiliki banyak penggemar. Namun, jika ditinjau lebih jauh mengenai sifat amanah dan kejujuran, maka kejujuran yang paling utama adalah kejujuran dalam aqidah. Amanah yang paling besar bagi seorang hamba adalah amanah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dengan mentauhidkan-Nya, beribadah kepada-Nya semata, dan tidak menyekutukan-Nya.
Stigmatisasi terhadap Ayat-Ayat Al-Qur’an
Pemberian gelar wahabi kepada penyeru tauhid bertujuan untuk menghalangi manusia dari kebenaran. Bahkan, ketika dibacakan ayat Al-Qur’an yang memerintahkan untuk mengesakan Allah, sebagian pihak dengan gegabah melabeli ayat tersebut sebagai ayat wahabi. Contohnya saat dibacakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (QS. An-Nisa[4]: 36)
Atau ayat mengenai tujuan pengutusan para rasul:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut’ (.” (QS. An-Nahl[16]: 36)
Tuduhan bahwa ayat-ayat yang mengajak kepada tauhid dan melarang perbuatan syirik merupakan milik wahabi adalah sebuah kekeliruan besar. Ayat-ayat tersebut adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bersifat universal bagi seluruh umat manusia.
Tantangan besar bagi orang yang mendakwahkan tauhid adalah pemberian gelar-gelar buruk oleh sebagian pihak. Ketika seorang dai membawakan hadits shahih yang memerintahkan untuk hanya meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagian orang melabelinya sebagai hadits wahabi.
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
“Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Konsekuensi dari menolak Al-Qur’an dan hadits shahih sangat buruk, bahkan dapat terjerumus pada kekufuran. Namun, hal ini sering kali terjadi karena kejahilan atau pengaruh tokoh-tokoh yang menyesatkan. Label wahabi ini tidak hanya menyasar pada masalah aqidah, tetapi juga pada pengamalan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam shalat, seperti meletakkan tangan di dada saat bersedekap atau menggerakkan jari saat tasyahud sebagaimana riwayat yang shahih.
Pada akhirnya, istilah “Wahabi” justru menjadi simbol bagi orang-orang yang bertauhid dan berpegang teguh pada sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Secara bahasa, istilah ini dinisbatkan kepada salah satu nama Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi). Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Zat yang menganugerahkan nikmat tauhid, dan tauhid merupakan sebesar-besar nikmat bagi hamba-Nya.
Syekh Muhammad bin Jamil Zainu Rahimahullah menasihatkan agar para penyeru tauhid senantiasa bersabar. Mereka sedang mengikuti jejak manusia terbaik, yaitu para nabi dan rasul ‘Alaihis Shalatu Wassalam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Muzzammil[73]: 10)
Kesabaran adalah kunci dalam menghadapi ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang da’i tidak boleh mengikuti keinginan orang-orang yang berdosa atau kufur. Allah berfirman:
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا
“Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka.” (QS. Al-Insan[76]: 24)
Setiap pengikut rasul hendaknya mencontoh kesabaran para Ulul Azmi. Sebagaimana perintah Allah:
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ
“Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati (Ulul Azmi).” (QS. Al-Ahqaf[46]: 35)
Kewajiban Menerima Dakwah Tauhid
Setiap muslim wajib menerima seruan tauhid dan mencintai para penyerunya. Tauhid adalah inti dakwah seluruh rasul dan dakwah nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seseorang yang mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pasti akan mencintai dakwah tauhid yang beliau bawa. Sebaliknya, membenci tauhid berarti membenci esensi risalah yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Dengan kejelasan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadits shahih, kaum muslimin hendaknya berpegang teguh pada petunjuk yang agung ini sebagai bentuk kecintaan yang nyata kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..
Download MP3 Kajian
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56046-perseteruan-antara-tauhid-dan-syirik/